Added: Mar 8, 2007
From: wanawotvideo
Duration: 5:0
Sehari pasca bencana gempa, sepanjang jalan menuju ke Bantul dipadati oleh kendaraan yang berduyun-duyun menuju lokasi gempa. Kendaraan pembawa bantuan logistik korban gempa pun kewalahan untuk menuju lokasi gempa. Banyak kendaraan bernomor kendaraan dari luar kota Jogjakarta, antara lain Semarang, Surakarta (Solo), Madiun, Jakarta, Bengkulu dan beberapa kota lainnya. Hal dapat dipahami karena mereka ingin melihat keadaan sanak - saudaranya yang tertimpa bencana. Tetapi tidak sedikit pula orang yang datang dari luar Jogja hanya untuk melihat secara langsung apa yang terjadi. Mereka tentu bukan orang yang berada dalam tingkatan ekonomi rendah karena mereka datang dengan menggunakan kendaraan-kendaraan beroda empat. Mobil-mobil yang mereka gunakan juga bukan mobil biasa, termasuk mobil keluaran baru antara lain Honda Jazz, Kijang Inova, Toyota Avanza dan merk-merk mobil yang lain. "Saya khusus datang dari kota Bandung untuk sekedar melihat secara langsung keadaan pasca gempa di daerah Bantul, tapi saya juga membawa sedikit bantuan untuk mereka kok," kata Asep, seorang turis dari Bandung. Asep datang dalam rombongan lima mobil. Mereka datang dan memberikan bantuan ke salah satu posko yang terletak di Jl. Imogiri Barat. Kepuasan untuk melihat korban dan suasana pasca gempa ini membuat orang berfikir tidak rasional. Mereka tidak berpikir bahwa biaya yang mereka pergunakan untuk menuju lokasi bisa jadi sama besar dengan besarnya sumbangan yang mereka berikan. Lalu lintas yang menjadi padat secara tiba-tiba ini juga dikarenakan mereka banyak berhenti di pinggiran ruas jalan hanya untuk memotret obyek gempa, gedung perkantoran dan kampus yang runtuh, dan rumah yang rata dengan tanah. Hal ini tentu menyusahkan mobil-mobil pembawa bantuan untuk masuk ke daerah lokasi bencana dan menghambat evakuasi korban dengan menggunakan ambulans. Hal yang sama juga diceritakan oleh seorang korban gempa yang berada di wilayah Bambanglipuro Bantul. "Kami ini bukan tontonan mbak, tapi kok ada saja orang yang datang hanya untuk melihat-lihat, sudah gitu mereka foto-foto disini, apa kami tidak nelongso?" demikian dikatakan oleh Surati. "Kalau yang kesini sambil bawa bantuan masih lumayan mbak, tapi kalau yang kesini cuma lewat dan melihat-lihat, kok seperti tidak punya hati ya," kata Marsini. Dalam fenomena wisata bencana ini, sebenarnya bisa dikategorikan menjadi dua jenis wisatawan. Yang pertama wisatawan yang datang dan membantu korban ala kadarnya. Yang kedua wisatawan yang hanya datang untuk melihat-lihat dan memotret sana-sini.
Channel: People
Rating: 5.0' max='5' min='1' numRaters='3' rel='http://schemas.google.com/g/2005#overall ( ratings) Views: 5922 Comments: 1
. . . . . . . because these video appear directly from youtube.com which we cannot control it.)
shoqa Says:
Jan 20, 2008 - ga bantuin malah berwisata